Langsung ke konten utama

Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah

Muqaddimah.

Syarah aqidah ahlus sunnah wal jamaah

Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah


Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita, barangsiapa yang Allah tunjuki, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah.

Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan Allah.

"Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam." (QS. Ali 'Imraan: 102)

"Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (QS. An-Nisaa': 1)

"Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Amma ba'du:

"Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka." (1)

Allah 'Azza wa Jalla berfirman, mengingatkan para hamba-Nya tentang besarnya nikmat yang Dia anugerahkan kepada mereka:

"Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan ke-Islaman mereka. Katakanlah: 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan ke-Islamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukimu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hujuraat: 17)

Maka, segala puji hanya milik Allah 'Azza wa Jalla yang telah menunjukkan kita kepada Islam dan kita tidak akan pernah mendapat petunjuk, jika kita tidak dianugerahi hidayah oleh-Nya.
Di antara karunia dan nikmat Allah 'Azza wa Jalla bagi ummat ini adalah, Dia mengutus Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kepada ummat Islam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman tatkala Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya, sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Ali 'Imran: 164)

Dengan diutusnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan terbuka mata yang buta, menjadikan mendengar telinga yang tuli dan membuka qalbu yang terkunci mati. Dengan diutusnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta'ala menunjuki orang yang sesat, memuliakan orang yang hina dan menguatkan orang yang lemah, menyatukan orang serta kelompok setelah bercerai berai dan bermusuhan.

Setelah diutus, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Ia menyampaikan risalah, menunaikan amanah dan berjihad di jalan Allah Jalla Jalaaluh dengan sebenar-benarnya jihad hingga datang kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kematian, sementara ummat manusia masuk ke dalam agama Allah 'Azza wa Jalla dengan berbondong-bondong. Maka, semoga Allah 'Azza wa Jalla mencurahkan shalawat dan salam kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan memberinya ganjaran yang lebih besar atas jasa beliau kepada kita melebihi ganjaran yang pernah diberikan-Nya kepada seorang Nabi karena berjasa kepada ummatnya.

Tatkala Allah 'Azza wa Jalla menyempurnakan agama-Nya yang Dia ridhai untuk menjadi agama bagi ummat ini, Dia menurunkan kepada Nabi-Nya ayat dalam rangka mengingatkan beliau dan ummatnya akan karunia-Nya, yaitu sebuah ayat yang berbunyi:

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Maa-idah: 3)

Ayat ini turun pada hari besar ummat Islam (2), hari berkumpulnya kaum Muslimin yang paling agung yaitu hari dilaksanakannya wukuf di Arafah yang bertepatan dengan hari Jum'at sebagai hari raya ummat Islam yang selalu ada setiap pekannya. Ummat manusia telah berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah Haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka para Shahabat mendengar langsung ayat ini dari lisan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga mereka mengetahui besarnya karunia dan nikmat yang dianugerahi Allah kepada mereka berupa agama ini dan Allah 'Azza wa Jalla telah menyempurnakan dan memilihnya untuk mereka. Mereka juga mengetahui, bahwa Allah 'Azza wa Jalla telah memilih mereka untuk mengibarkan panji-panji agama-Nya dan menyebarkannya, berjuang dan berkorban di jalan-Nya baik dengan jiwa maupun dengan harta dan raga, dengan meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini juga merupakan nikmat dan karunia dari Allah 'Azza wa Jalla atas ummat ini. Karena mereka telah membawa bendera jihad dan dakwah, menyampaikan Dienullah (agama Allah) di atas dasar ilmu sehingga Islam menyebar di berbagai penjuru dunia dan cahaya Islam menerangi belahan Timur dan Barat bumi ini, dengan perjuangan mereka. Allah memelihara agama-Nya, yang selaras dengan firman-Nya:

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qu-nan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9)

Ini juga merupakan nikmat Allah untuk ummat ini.

Jalan yang ditempuh oleh para Shahabat radhiyallahu 'anhum diikuti oleh para ulama yang menetapi manhaj Salafush Shalih. Mereka mengajak manusia kepada agama ini. Mereka berjihad fi sabilillah dan tampil membela al-haq (kebenaran) dan para pengikutnya. Mereka merintis jalan agar mudah ditempuh oleh ummat manusia untuk mendengar suara al-haq (kebenaran), dan setiap kali sekelompok ada di antara mereka dipanggil kembali oleh Allah 'Azza wa Jalla, maka Allah 'Azza wa Jalla menggantinya dengan kelompok baru, maka mereka adalah penerus terbaik yang mewarisi generasi Salaf terbaik.
Dalam kaitan ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk ummat ini pada awal setiap seratus tahun orang yang men-tajdid (memperbaharui) agama mereka." (3)

Maka, segala puji hanya milik Allah 'Azza wa Jalla yang telah menjadikan pada setiap masa yang kosong dari para Rasul, pewaris yang terdiri dari ahli ilmu yang berdakwah, mengajak orang yang sesat kepada hidayah. Mereka tabah dan sabar menghadapi bermacam-macam tantangan dan ujian untuk menghidupkan mereka yang mati hatinya dengan Kitabullah dan dengan cahaya Allah 'Azza wa Jalla, menjadikan terbuka mata mereka yang buta. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang telah mati terbunuh (hatinya) oleh iblis kembali dihidupkan dan banyak dair mereka yang sesat dan kebingungan kembali mendapat petunjuk.

Alangkah baik warisan mereka untuk manusia tetapi sebaliknya, sungguh buruk peninggalan manusia untuk mereka. Para Ahlul Ilmi itu telah tampil menolak manipulasi Kitabullah yang dilakukan oleh mereka yang berlebih-lebihan, dan mencegah pemalsuan orang-orang yang berkecimpung dalam kebathilan serta menolak ta'-wil terhadap Kitabullah yang diperbuat oleh orang-orang bodoh yang mengibarkan bendera bid'ah melepaskan tali pengikat fitnah. Mereka adalah orang-orang yang berselisih tentang Kitabullah sekaligus menyelisihinya. Mereka bersepakat untuk memisahkan diri dari Kitabullah dengan membahas tentang Allah dan tentang Kitabullah tanpa ilmu. Mereka menyampaikan pandangan dan ucapan yang mengandung syubhat yang membingungkan dan mengecoh orang-orang awam. Kita berlindung kepada Allah 'Azza wa Jalla dari fitnah orang-orang yang sesat. (4)

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, Rabb sekalian alam, yang telah memberi karunia hidayah taufiq kepada hamba-Nya, baik berupa ilmu yang bermanfaat, iman, amal shalih, pemahaman yang benar dan manhaj yang haq yaitu mengikuti jejak Salafush Shalih. Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya, para Shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sampai hari Kiamat.

'Aqidah tauhid merupakan pegangan yang sangat prinsip yang menentukan bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Karena tauhid merupakan pondasi bangunan agama, menjadi dasar bagi setiap amalan yang dilakukan hamba-Nya. Tauhid merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul. Mereka pertama kali memulai dakwahnya dengan tauhid dan tauhid merupakan ilmu yang paling mulia.

'Aqidah yang benar adalah perkara yang amat penting dan kewajiban yang paling besar yang harus diketahui oleh setiap Muslim dan Muslimah. Karena sesungguhnya sempurna dan tidaknya satu amal, diterima dan tidaknya bergantung kepada 'aqidah yang benar. Kebahagiaan dunia dan akhirat dapat diperoleh oleh orang-orang yang berpegang pada 'aqidah yang benar ini dan menjauhkan diri dari hal-hal yang menafikan dan mengurangi kesempurnaan 'aqidah tersebut.

'Aqidah yang benar adalah 'aqidah al-Firqatun Najiyah (golongan yang selamat), 'aqidah ath-Thaifah al-Manshurah (golongan yang mendapat pertolongan Allah), 'Aqidah Salaf, 'Aqidah Ahlul Hadits, Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Islam yang Allah karuniakan kepada kita harus kita pelajari, fahami, amalkan yang bersumber dari al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman para Shahabat (Salafush Shalih). Pemahaman para Shahabat adalah satu-satunya pemahaman yang benar. 'Aqidah dan manhaj mereka adalah satu-satunya yang benar. Sesungguhnya jalan kebenaran menuju kepada Allah hanya satu, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hadits Iftiraqul Ummah (tentang perpecahan ummat).

Dari Shahabat 'Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Ummat yahudi berpecah belah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, maka hanya satu golongan yang masuk Surga dan 70 (tujuh puluh) golongan masuk Neraka, ummat nashrani berpecah belah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan 71 (tujuh puluh satu) golongan masuk Neraka dan hanya satu golongan yang masuk Surga. Dan demi jiwa Nabi Muhammad yang berada di tangan-Nya sungguh akan berpecah belah ummatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, hanya satu (golongan) masuk Surga, dan 72 (tujuh puluh dua golongan) masuk Neraka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya: 'Wahai Rasulullah, siapakah mereka (satu golongan yang selamat)?' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Al-Jama'ah.'" (5)

Allah memerintahkan kepada ummat Islam mengikuti satu jalan, dan tidak boleh mengikuti jalan yang menceraiberaikan manusia dari jalan-Nya sebagaimana firman-Nya:

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa." (QS. Al-An'aam: 153)

Imam Ibnul Qayyim (wafat tahun 751 H) rahimahullah berkata: "Hal ini disebabkan jalan menuju Allah hanyalah satu. Jalan itu adalah ajaran yang telah Allah wahyukan kepada Rasul-rasul-Nya dan Kitab-kitab yang telah diturunkan kepada mereka. Tidak ada satu pun yang dapat sampai kepada-Nya tanpa melalui jalan tersebut. Sekiranya ummat manusia mencoba seluruh jalan yang ada dan berusaha mengetuk seluruh pintu yang ada, maka seluruh jalan itu tertutup dan seluruh pintu itu terkunci kecuali dari jalan yang satu itu. Jalan itulah yang berhubungan langsung kepada Allah dan menyampaikan mereka kepada-Nya." (6)

Akan tetapi, faktor yang membuat kelompok-kelompok dalam Islam itu menyimpang dari jalan yang lurus adalah kelalaian mereka terhadap rukun ketiga yang sebenarnya telah diisyaratkan dalam al-Qur-an dan as-Sunnah, yakni memahami al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih. Surat al-Fatihah secara gamblang telah menjelaskan ketiga rujkun tersebut, firman Allah:

"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)

Ayat ini mencakup rukun pertama dan kedua, yakni merujuk kepada al-Qur-an dan as-Sunnah, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka." (QS. Al-Fatihah: 7)

Ayat ini mencakup rukun ketiga, yakni merujuk kepada pemahaman Salafush Shalih dalam meniti jalan yang lurus tersebut. Padahal sudah tidak diragukan bahwa siapa saja yang berpegang teguh dengan al-Qur-an dan as-Sunnah pasti telah mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus. Oleh karena metode manusia dalam memahami al-Qur-an dan as-Sunnah berbeda-beda, ada yang benar dan ada yang salah, maka haruslah memenuhi rukun ketiga untuk menghilangkan perbedaan tersebut, yakni merujuk kepada pemahaman Salafush Shalih. (7)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Perhatikanlah hikmah berharga yang terkandung dalam penyebutan sebab dan akibat ketiga kelompok manusia (yang tersebut di akhir surat al-Fatihah) dengan ungkapan yang sangat ringkas. Nikmat yang dicurahkan kepada kelompok pertama adalah nikmat hidayah, yakni ilmu yang bermanfaat dan amal shalih." (8)

Uraian di atas merupakan penegasan dari beliau bahwa generasi yang paling utama yang dikarunia Allah ilmu dan amalan shalih adalah para Shahabat Rasul (shallallahu 'alaihi wa sallam). Hal itu karena mereka telah menyaksikan langsung turunnya al-Qur-an, menyaksikan sendiri penafsiran yang shahih yang mereka pahami dari petunjuk Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia.

Setiap Muslim dan Muslimah dalam sehari semalam minimal 17 (tujuh belas) kali membaca ayat:

"Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka." (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Permohonan dan do'a seorang Muslim setiap hari agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus, harus direalisasikan dengan menuntut ilmu syar'i, belajar agama Islam yang benar, berdasarkan al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman para Shahabat (pemahaman Salafush Shalih) dan mengamalkan sesuai dengan pengamalan mereka. Artinya ummat Islam harus melaksanakan agama yang benar menurut cara beragamanya para Shahabat (radhiyallahu 'anhum) karena sesungguhnya mereka adalah orang yang mengikuti Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Apabila ummat Islam memahami Islam menurut pemahaman Salaf dan mengamalkannya menurut cara apa yang dilaksanakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya. Maka, ummat Islam akan mendapatkan hidayah (petunjuk), barakah, ketenangan hati, terhindar dari pemahaman-pemahaman dan aliran yang sesat, diberikan keselamatan, kemuliaan, kejayaan dunia dan akhirat serta diberikan pertolongan oleh Allah untuk mengalahkan musuh-musuh Islam dari orang-orang kafir dan munafiqin. Realita kondisi ummat Islam yang kita lihat sekarang ini, ummat Islam hancur, berpecah belah dan mendapatkan berbagai musibah dan petaka, dikarenakan mereka tidak berpegang teguh kepada 'aqidah dan manhaj yang benar dan tidak melaksanakan syari'at Islam sesuai dengan pemahaman Shahabat (radhiyallahu 'anhum), serta banyak dari mereka menyelisihi Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Dijadikan kehinaan dan kerendahan atas orang-orang yang menyelisihi Sunnahku. Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." (9)

Pertama kali yang harus diluruskan dan diperbaiki adalah 'aqidah dan manhaj ummat Islam dalam menyakini dan melaksanakan agama Islam. Hal ini merupakan upaya untuk mengembalikan jati diri ummat Islam, untuk mendapatkan ridha Allah 'Azza wa Jalla dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki dan meluruskan 'aqidah ummat Islam, penulis berusaha ikut andil untuk menjelaskan 'aqidah dan manhaj yang benar sesuai dengan pemahaman para Shahabat Ridhwanullaah 'alaihim 'ajma'in.

Buku yang ada di tangan pembaca adalah "Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah". Penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menjelaskan tentang 'aqidah dan manhaj yang benar dari kitab-kitab para ulama terdahulu dengan dalil-dalil yang shahih dan akurat dari al-Qur-an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih, penjelasan para Shahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in, serta para ulama yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

Penulis berusaha mengambil rujukan yang benar dan ilmiyah dari kitab-kitab yang telah diakui keotentikannya oleh para ulama Ahlus Sunnah dari zaman dahulu sampai sekarang. Tujuan penulis menjelaskan tentang 'aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah agar diyakini dengan seyakin-yakinnya oleh ummat Islam terutama oleh para da'i, ustadz, kyai dan lainnya. 'Aqidah ini harus dipahami dengan benar dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan diajarkan kepada kaum Muslimin dalam setiap majelis ta'lim dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Buku ini juga sebagai bantahan kepada orang atau kelompok atau jama'ah yang mereka telah menyimpang jauh dari 'aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dan mereka mengaku-ngaku sebagai golongan dan "pengikut Ahlus Sunnah wal Jama'ah" atau "pengikut Imam asy-Syafi'i". Pengakuan dan dakwaan mereka tidaklah benar. Bagaimana mungkin mereka dikatakan Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan pengikut Imam asy-Syafi'i rahimahullah, sedangkan mereka masih tetap melakukan kesyirikan dan bid'ah. Di antara contoh penyimpangan-penyimpangan mereka adalah, mengajak orang untuk beribadah kepada selain Allah, menyembah kubur para wali, tawassul dengan orang mati, mengingkari sebagian Sifat-sifat Allah, menta'-wil Sifat-sifat Allah dan mengajak orang untuk melakukan perbuatan-perbuatan bid'ah dan sebagainya. Pengakuan mereka adalah kebohongan dan kepalsuan yang harus diralat, dikritik, dibantah dan diluruskan supaya ummat Islam tidak tertipu dengan slogan dan propaganda mereka, karena sesungguhnya 'aqidah Imam asy-Syafi'i rahimahullah bukanlah 'aqidah Asy'ariyah yang menta'-wil Sifat-sifat Allah. 'Aqidah Imam asy-Syafi'i rahimahullah adalah 'aqidah Ahlus Sunnah, 'aqidah Salaf, mengikuti al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman Shahabat radhiyallahu 'anhum. Beliau rahimahullah adalah seorang Muttabi' (orang yang mengikuti) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan bukan pembuat bid'ah dan beliau tidak menta'-wil Sifat-sifat Allah. Beliau rahimahullah mengajak ummat untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menjauhkan syirik.

Syarah (penjelasan) 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah sangat penting untuk dijelaskan kepada para ustadz yang mengaku penganut madzhab Imam asy-Syafi'i namun mereka menyelisihi 'aqidah dan manhaj Imam asy-Syafi'i. Justru yang mereka lakukan adalah syirik dan bid'ah yang membuat mereka menyimpang dari jalan yang lurus bahkan membuat mereka sesat dan menjadi musyrik (yang dapat mengeluarkan dari Islam). Karena perbuatan syirik dan bid'ah yang mereka lakukan justru menghancurkan agama Islam, nas-alullaaha as-Salaamah wal 'aafiyah.

Semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka ke jalan yang benar dan mengembalikan mereka kepada as-Sunnah.

Apa yang saya susun dalam buku ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis, pembaca dan kaum Muslimin. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada thulaabul 'ilmi (para penuntut ilmu) yang turut membantu menyelesaikan buku ini -mudah-mudahan Allah Jalla Jalaaluh memberi ganjaran yang baik kepada mereka-.

Apa yang benar dalam buku ini datangnya dari Allah 'Azza wa Jalla dan apa yang keliru adalah dari kesalahan penulis dan syaitan. Penulis memohon ampun kepada Allah 'Azza wa Jalla. Allah Mahapengampun dan Mahapenyayang. Akhirnya penulis berharap agar para pembaca memberikan nasehat yang baik apabila di dalam buku ini terdapat kesalahan dan kekurangan.

Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita ganjaran yang baik dan menunjukkan di atas jalan yang haq, dihidupkan dan diwafatkan di atas Sunnah. Semoga shalawat dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, dan para Shahabatnya.

Alhamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin.

Bogor, Jumadil Akhir 1425 H
Agustus 2004 M

Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Penulis

Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah

===

Catatan Kaki:

(1) Khutbatul Hajah, khutbah ini dinamakan Khutbatul Hajah (), khutbah pembuka yang biasa dipergunakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengawali setiap majelisnya. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengajarkan khutbah ini kepada para Shahabat radhiyallahu 'anhum. Khutbah ini diriwayatkan dari enam Shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 2118), an-Nasa-i (III/104-105), at-Tirmidzi (1105), Ibnu Majah (1892), dan al-Hakim (II-182-183), dari Shahabat 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Hadits ini shahih. Hadits ini ada beberapa syawahid (penguat) dari beberapa Shahabat, yaitu:

1. Shahabat Abu Musa al-Asy'ari (radhiyallahu 'anhu) (Majma'uz Zawa-id IV/288).

2. Shahabat 'Abdullah bin 'Abdillah (radhiyallahu 'anhu) (Muslim no. 868, al-Baihaqy III/215).

3. (Shahabat) Jabir bin 'Abdillah (radhiyallahu 'anhu) (Ahmad II/37, Muslim no. 867, dan al-Baihaqy III/214).

4. (Shahabat) Jabir bin Syariith (radhiyallahu 'anhu) (al-Baihaqy III/215).

5. Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma.

Lihat Khutbatul Hajah al-Latii Kaana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Yu'allimuha Ash-haabahu, ta'lif Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah, cet. IV, al-Maktab al-Islamy, th. 1400 H dan cet. I, Maktabah al-Ma'arif, th. 1421.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di setiap khutbahnya selalu memulai dengan memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa Ta'ala serta tasyahhud (mengucapkan dua kalimat syahadat) sebagaimana yang diriwayatkan para Shahabat:

1. Dari Asma' binti Abi Bakar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "...Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda: Amma ba'du." (HR. Al-Bukhary no. 86, 184, 922)

2. 'Amr bin Taghlib (radhiyallahu 'anhu), dengan lafazh yang sama dengan hadits Asma'. (HR. Al-Bukhary no. 923)

3. 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma berkata, "...Tatkala selesai shalat Shubuh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap kepada para Shahabat, beliau bertasyahhud (mengucapkan kalimat syahadat) kemudian bersabda: Amma ba'du..." (HR. Al-Bukhary no. 924)

4. Abu Humaid as-Saa-idy (radhiyallahu 'anhu) berkata, "Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri khutbah pada waktu perang sesudah shalat ('Ashar), lalu beliau bertasyahhud dan menyanjung serta memuji Allah yang memang hanya Dia-lah yang berhak mendapatkan sanjungan dan pujian, kemudian bersabda: Amma ba'du..." (HR. Al-Bukhary no. 925)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Setiap khutbah yang tidak dimulai dengan tasyahhud, maka khutbah itu seperti tangan yang berpenyakit lepra/ kusta." (HR. Abu Dawud no. 4841, Ahmad II/302-343, Ibnu Hibban no. 1994 -Mawaarid, dan selainnya. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 169)

Menurut Syaikh al-Albany, yang dimaksud dengan tasyahhud di hadits ini adalah Khutbatul Hajah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para Shahabat radhiyallahu 'anhum, yaitu: Innal hamdalillah..." (Hadits Ibnu Mas'ud (radhiyallahu 'anhu))

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: "Khutbah ini adalah Sunnah, dilakukan ketika mengajarkan al-Qur-an, as-Sunnah, fiqih, menasehati orang dan semacamnya... Sesungguhnya hadits Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, tidak mengkhususkan untuk khutbah nikah saja, tetapi khutbah ini pada setiap ada keperluan untuk berbicara kepada hamba-hamba Allah, sebagian kepada sebagian yang lainnya..." (Majmuu' Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah XVIII/286-287)

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah: "...Sesungguhnya khutbah ini dibaca sebagai pembuka setiap khutbah, apakah khutbah nikah, atau khutbah Jum'at, atau yang lainnya (seperti ceramah, mengajar dan yang lainnya, -pent), tidak khusus untuk khutbah nikah saja, sebagaimana disangka oleh sebagian orang..." (Khutbatul Hajah (hal. 36), cet. I, al-Ma'arif)
Kemudian beliau melanjutkan: "Khutbatul hajah ini hukumnya sunnah bukan wajib, dan aku membawakan hal ini untuk menghidupkan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang ditinggalkan oleh kaum Muslimin dan tidak dipraktekkan oleh para khatib, penceramah, guru, pengajar dan selain mereka. Mereka harus berusaha untuk menghafalnya dan mempraktekkannya ketika memulai khutbah, ceramah, makalah, ataupun mengajar. Semoga Allah merealisasikan tujuan mereka." (Khutbatul hajah (hal. 40), cet. I, al-Ma'aarif dan an-Nashiihah (hal. 81-82), cet. I, Daar Ibnu 'Affan - 1420 H)

(2) Lihat Shahih al-Bukhari (no. 45, 4407, 4606, dan 7268), Muslim (no. 3017), dan an-Nasa-i (V/251 dan VIII/114), dari Thariq bin Syihab dari 'Umar bin al-Khaththab (radhiyallahu 'anhu).

(3) HR. Abu Dawud (no. 4291), al-Hakim (IV/522) dan yang lainnya, dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Dishahihkan oleh Imam al-Hakim sebagaimana yang dinukil oleh Imam al-Munawy dalam Faidhul Qadir (II/358) cet. Daarul Kutub al-Ilmiyyah, th. 1415 H. Dishahihkan juga oleh Syaikh al-Albany, lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 599.

Men-tajdid maksudnya menjelaskan Sunnah dari Bid'ah, memperbanyak ilmu dan memuliakan pemiliknya, membela Sunnah dan pengikutnya, dan menghancurkan bid'ah dan pelakunya, baik dengan lisan, tulisan, pendidikan dan sejenisnya. Dan ini terjadi ketika agama lenyap. ('Aunul Ma'buud Syarah Sunan Abi Dawud (XI/301), cet. Daarul Fikr - 1415 H dan Majmuu' Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah XVIII/297.

(4) Dipetik dari khutbah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam kitabnya, ar-Radd 'ala al-Jahmiyah. Dikutip dari Muqaddimah Manhaj asy-Syafi'i rahimahullah fii Itsbaatil 'Aqiidah (I/3-5) oleh Dr. Muhammad bin 'Abdil Wahhab al-'Aqiil.

(5) HR. Ibnu Majah dengan lafazh miliknya, dalam Kitabul Fitan, bab Iftiraqul Umam (no. 3992), Abu Dawud dalam Kitabus Sunnah, bab: Syarhus Sunnah (no. 4596), Ibnu Abi 'Ashim dalam Kitabus Sunnah (no. 63). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 203-204).

Satu golongan dari ummat yahudi yang masuk Surga adalah mereka yang beriman kepada Allah dan kepada Nabi Musa 'alaihis salaam serta mati dalam keadaan beriman. Dan begitu juga satu golongan dari ummat nashrani yang masuk Surga adalah mereka yang beriman kepada Allah dan kepada Nabi 'Isa ('alaihis salaam) sebagai Nabi dan utusan dan hamba Allah serta mati dalam keadaan beriman. Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka semua ummat yahudi dan nashrani wajib masuk Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi.

(6) Tafsir al-Qayyim lil Ibnil Qayyim (hal. 14-15).

(7) Madaarikun Nazhar fis Siyaasah baina Tathbiiqaat asy-Syar'iyyah wal Infi'aalaat al-Hamasiyah (hal. 27-28) karya 'Abdul Malik bin Ahmad bin al-Mubarak Ramadhani al-Jazairy, cet. II - 1418 H.

(8) Lihat Madaarijus Salikin (I/20), cet. Daarul Hadits Kairo.

(9) HR. Ahmad (II/50, 92), dari Shahabat 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir hafizhahullah dalam tahqiqnya terhadap Musnad Imam Ahmad (no. 5667).

===

Maraji'/ sumber:

Buku: Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Penulis: Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah, Penerbit: Pustaka at-Taqwa, Bogor - Indonesia, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

Postingan populer dari blog ini

Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Bab I. A. Definisi 'Aqidah. 'Aqidahmenurut bahasa berasal dari kata al-'Aqdu (العقد) yang berarti ikatan, at-Tautsiqu (التوثيق) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-Ihkamu (الإحكام) artinya mengokohkan/menetapkan, dan ar-Rabthu biquwwah (الربط بقوۃ) yang berarti mengikat dengan kuat. (10) Sedangkan menurut istilah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya. Jadi, 'Aqidah Islamiyah adalah: Keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid (11) dan ta'at kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, Hari Akhir, Taqdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang sudah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma' (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-be...

Ahlus Sunnah | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Ahlus Sunnah Bab II. Kaidah dan Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Mengambil dan Menggunakan Dalil. (56) Ahlus Sunnah 1. Sumber 'aqidah adalah Kitabullah (al-Qur-an), Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih, dan ijma' Salafush Shalih. 2. Setiap Sunnah yang shahih yang berasal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wajib diterima, walaupun sifatnya ahad. Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7) 3. Yang menjadi rujukan dalam memahami al-Qur-an dan as-Sunnah adalah nash-nash (teks al-Qur-an maupun hadits) yang menjelaskannya, pemahaman Salafush Shalih dan para Imam yang mengikuti jejak mereka, serta dilihat arti yang benar dari bahasa Arab. Namun jika hal tersebut sudah benar, maka tidak dipertentangkan lagi dengan hal-hal yang berupa kemungkinan sifatnya menurut bahasa. 4. P...